Rabu, 05 Desember 2012

Rahasia Agar Hubungan Tetap Harmonis

Setiap hari kita sangat terbiasa mengucapkan “tolong”, “terima kasih”, “apa kabar?”, tetapi apakah kita sungguh-sungguh? Jujur, saya sih tidak.

Jika ditanya orang “bagimana kabarmu?” cobalah jawab dengan rinci hal-hal apa saja yang Anda alami. Lihatlah wajahnya yang terkejut dan terganggu karena Anda bersungguh-sungguh menjawab pertanyaan itu. Basa-basi tampaknya sudah sangat mengakar sekarang. Ucapan terima kasih yang tulus dan diucapkan dengan sungguh kini sudah jarang.


Kita sering meremehkan berbagai hal. Ketika saya berlibur ke Amerika Selatan, saya sangat tersentuh karena penduduk di sana tetap bersyukur meski mereka hidup miskin dan kekurangan. Tetapi di Amerika Serikat? Kondisi kita jauh lebih baik tetapi kita masih ingin begitu banyak hal lagi. Ketika kita mendapatkan apa yang kita mau pun, kita tak begitu puas. Kegembiraan cepat memudar begitu kita mendapatkan barang yang kita incar.

Tapi seberapa penting rasa syukur, selain perasaan hangat dan gembira saat mengetahui seseorang mengagumi kita atau kita menerima hadiah? Selain hal tersebut, mengapa rasa syukur dalam hubungan begitu penting?

Percaya atau tidak, ada reaksi kimia terlibat dalam tindakan memberi dan menerima. Ungkapan "lebih baik memberi daripada menerima" tampaknya sekarang sudah terbukti.

Jordan Grafman dan tim ilmuwan menunjukkan, memberikan hadiah kepada orang lain benar-benar membuat orang merasa lebih baik daripada menerimanya. Memberikan hadiah mengaktifkan perilisan dopamin dan oksitosin, hormon rasa senang yang dihasilkan ketika kita mabuk asmara, seks atau sesuatu yang lain.

Dopamin akan terangsang ketika kita menerima sesuatu. Tetapi bila kita memberi sesuatu, oksitosin justru lebih terangsang. Ini sesuai dengan ungkapan “memberi lebih baik dari menerima”.
Pengamatan menunjukkan, tiap kali seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain, ada tiga orang yang merasakan manfaatnya: pemberi, penerima, dan pengamat. Bahkan melihat kebaikan juga dapat memberi perasaan bahagia.

Para ilmuwan menegaskan, berlatih syukur sebenarnya mengubah neurokimia otak kita, mengurangi rasa sakit fisik, meningkatkan kewaspadaan, membuat tidur lebih pulas, dan meningkatkan semua kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Hal ini menular. Dalam penelitian yang dilaporkan oleh Fowler dan Christakis di Science Daily, ketika seseorang memberi uang untuk membantu orang lain, maka si penerima cenderung juga akan memberikan uang mereka sendiri ke orang lain di masa yang akan datang. Rasa syukur dan perasaan baik menciptakan efek domino, kemurahan hati dari satu orang menyebar ke tiga orang pertama dan kemudian ke sembilan orang yang berhubungan dengan mereka di masa depan, dan bahkan kepada orang lain dalam kejadian berikutnya.

Ketika Anda masih muda dan jatuh cinta — atau bergairah — otak dan tubuh Anda sebenarnya diluapi zat kimia dan hormon yang dikeluarkan tubuh saat menanggapi kegembiraan. Gairah cinta dan nafsu seksual didominasi oleh dopamin, yang dihasilkan karena kebahagiaan dan rasa dihargai. Ini adalah hormon sama yang mendorong banyak kecanduan. Tapi bagaimana bila api asmara mulai mengecil?

Ketika api gairah cinta berubah menjadi kecil, hal yang dapat menjaga keharmonisan dan perasaan baik tetap mengalir adalah ikatan, sikap dan rasa syukur. Ketika cinta meredup, hal-hal sederhana seperti senyuman, tatapan mata yang dalam, sentuhan, belaian, pelukan, memanjakan, kejutan atau pujian tidak terduga untuk pasangan menghasilkan lebih banyak rasa syukur dan oksitosin yang dapat memelihara dan mempertahankan hubungan untuk jangka panjang.

Kesimpulannya adalah, apa pun yang Anda fokuskan, apa pun yang Anda berusaha wujudkan, secara alami Anda akan mendapatkan lebih dari itu. Ini adalah bagian dari hukum alam semesta, fisika momentum. Berfokus pada penderitaan hanya akan membuat Anda tetap terjebak di dalamnya. Berfokus pada setiap potongan kebaikan yang mungkin dapat Anda temukan dalam hidup maka Anda akan mengalami kemajuan dalam kebebasan Anda sendiri.

Kadang-kadang itu adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan. Merasa bersyukur atas apa yang Anda miliki, bahkan jika itu sedikit, sebenarnya menggeser pola pikir dan energi Anda. Ini membuat Anda keluar dari pola pikir “selalu miskin”, membuka hati Anda dan menciptakan momentum baru yang akan terus menguat, menciptakan beberapa hasil yang benar-benar menakjubkan.

Bersyukur itu menyembuhkan. Dan dapat membuka pintu yang kadang-kadang tidak dapat terbuka oleh hal lainnya. Sumber

1 komentar: